Analisa NFP dan Strategi Menghadapinya

analisa nfp

Analisa NFP dan Strategi Menghadapinya pada Jumat, 4 Desember, pukul 08.30 WIB malam.

Euro rebound tajam dari level terendah sejak bulan April terhadap US dollar. Mata uang tunggal tersebut melonjak sebesar 3.1% terhadap US dollar setelah European Central Bank (ECB) Press Conference pada Kamis kemarin. Presiden ECB Mario Draghi pada pada press conference tersebut intinya menyatakan:

  • Memperpanjang program quantitative easing (QE) setidaknya selama 6 bulan dari September 2016 sampai Maret 2017 dan masih mungkin diperpanjang lagi.
  • Mempertahankan laju pembelian aset bulanan (QE) stabil di 60 miliar Euro (65 miliar US dollar).
  • Memangkas tingkat suku bunga deposito menjadi -0.3%.

Keputusan tersebut membuat Euro menguat tajam karena mengecewakan sebagian pelaku pasar yang mengharapkan pemangkasan suku bunga deposito yang lebih besar dan penambahan jumlah stimulus program QE. Euro menguat hampir 400 pips terhadap saingannya US dollar dan terhadap semua mata uang setelah pemangkasan suku bunga deposito sebanyak 10 basis point saja dari -0.2%. Sebelumnya pelaku pasar mengharapkan pemangkasan sebesar 20 basis point atau menjadi -0,4%

Sementara itu gubernur The Federal Reserve (The Fed) Janet Yellen  dalam pidatonya di Economic Club of Washington, kembali menyatakan siap untuk menaikan suku bunga acuan. Dalam pidato bernada hawkish, Yellen menjelaskan kondisinya sudah siap untuk menaikan suku bunga acuan pertama kalinya dalam sembilan tahun. Dia mengingatkan jika kenaikan suku bunga yang telah dikunci pada level mendekati nol terlalu lama, akan membahayakan perekonomian dan pasar keuangan. Tapi Yellen tidak memastikan apakah The Fed akan menaikkan suku bunga pada pertemuan 15-16 Desember 2015 mendatang. Suku bunga di Amerika Serikat rata-rata 5.93% dari tahun 1971 sampai dengan saat ini. Data suku bunga tertinggi 20% pada bulan Maret 1980 dan rekor terendah 0.25% pada Desember 2008.

Yellen juga mengatakan lagi (tidak ada yang baru) masih melihat kelemahan di pasar tenaga kerja AS. Inflasi juga masih lemah. Kedua masalah itu yang tetap menghalangi bank sentral AS melakukan pengetatan kebijakan moneter sepanjang tahun ini. Tapi dia percaya bahwa percepatan pertumbuhan berkelanjutan selama beberapa waktu ke depan akan mengarahkan pasar tenaga kerja menuju penyerapan penuh lapangan kerja dan pada akhirnya akan memacu harga-harga (inflasi)… lanjut klik hal 2 paling bawah

Login FB & Silahkan Komen

komentar

Posted in Fundamental and tagged , , , , , , , .