Apa sih Brexit?

brexit

Wacana Inggris untuk melepaskan diri dari Uni Eropa (UE) atau brexit menjadi perhatian dunia dalam beberapa pekan terakhir. British Exit (Inggris Keluar) atau disingkat Brexit pun menjadi istilah yang marak dalam pemberitaan media lokal Inggris dan internasional.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa banyak rakyat Inggris tidak menyukai keanggotaan Inggris di UE. Dalam beberapa tahun terakhir, sebagian warga Inggris menilai UE sudah banyak berubah. Mereka berpikir karena semakin banyaknya negara yang menjadi anggota, UE cenderung mengontrol semua aspek dari negara-negara tersebut. Dari sinilah muncul wacana Inggris akan menjadi negara yang lebih baik tanpa terikat aturan UE. Merespon situasi tersebut saat pemilu tahun lalu, PM David Cameron menjanjikan bahwa pihaknya akan mengadakan referendum untuk memutuskan apakah Inggris akan tetap tinggal di UE atau keluar.

Setelah kemenangan pemilu 2015 tersebut, Cameron masih berupaya untuk menghindari Brexit dengan melakukan renegosiasi dengan Uni Eropa untuk “meluruskan” hal-hal yang dianggap negatif. Namun kesepakatan terbukti sulit didapat. Ia masih berharap akan mencapai kesepakatan tertentu pada akhir Februari ini, tetapi bersama dengan itu terpaksa mengumumkan akan mengadakan referendum pertengahan tahun ini. Akhirnya 20 Februari 2016 lalu, PM Inggris David Cameron memutuskan untuk menggelar Referendum apakah Inggris akan tetap di UE atau Keluar (brexit) pada 23 Juni 2016.

Berikut 5 hal yang sering diperdebatkan menjadi pro (setuju) kontra (tidak setuju) Brexit:

  • Perdagangan Luar Negeri ekonomi Inggris sangat tergantung kepada UE karena sebagian besar ekspornya dikirim ke negara-negara UE.
    Kalangan pro brexit berpendapat Inggris dapat menegosiasikan hubungan dagang baru dengan UE tanpa harus ada ikatan keanggotaan UE dan juga dapat membuat kesepakatan dagang baru dengan negara-negara penting lain seperti AS, China, Jepang dan India.
    Sementara kalangan kontra brexit berpendapat sebagai anggota UE justru selama ini Inggris telah merasakan keuntungan bisa bebas dari tarif ekspor, hambatan non-tarif dan mendapatkan kemudahan lain dari UE.
  • Rata-rata Inggris membayar iuran keanggotaan UE 340 pounds per rumah tangga per tahunnya ke UE.
    Kalangan pro brexit memperhitungkan bahwa Inggris bisa menghemat biaya 350 juta pounds tiap pekan ke UE dan mengalihkan penggunaannya untuk riset ilmiah serta pengembangan industri-industri baru.
    Sementara  kalangan kontra brexit memperhitungkan bahwa manfaat yang didapat dari iuran keanggotan tersebut diperkirakan  mencapai 3,000 pounds per tahunnya (hampir 100x lipat), sehingga keanggotaan Inggris di UE sangat menguntungkan.
  • Banyak regulasi terpusat UE yang mengubah standar nasional Inggris.
    Kalangan pro brexit menilai dengan meninggalkan UE berarti Inggris bisa mandiri mengambil alih regulasi tentang ketenagakerjaan, kesehatan dan keamanan. Menurut riset terbaru dari lembaga Business for Britain, hal ini cenderung lebih disukai perusahaan-perusahaan Inggris.
    Sementara kalangan kontra brexit menilai bahwa regulasi UE tersebut positip akan mengurangi hambatan non-tarif dan menguntungkan bisnis Inggris. Jika masih dalam UE, maka Inggris bisa memperjuangkan regulasi yang lebih baik.
  • Banyak warga Inggris khawatir mengenai pengaruh UE dalam aturan imigrasi mereka.
    UE saat ini memperbolehkan para pengungsi untuk mengakses pekerjaan dan “keuntungan” negara tersebut. Sementara Inggris tidak memperbolehkan para pengungsi untuk mengakses pekerjaan dan “keuntungan” negara tersebut hingga tinggal selama 4 tahun.
    Kalangan pro brexit berpikir jika keluar dari UE, maka Inggris bisa menyingkirkan sistem imigrasi UE yang telah memaksa Inggris untuk membuka pintu bagi imigran dari sesama negara UE (yang kualitas SDM-nya diragukan) dan akhirnya Inggris dapat menyambut imigran non-UE yang bisa berkontribusi lebih besar.
    Sementara kalangan kontra brexit berpikir bahwa meninggalkan UE tidak menjadi jaminan arus imigrasi akan berkurang.
  • Peran Inggris dalam percaturan ekonomi Internasional.
    Kalangan pro menyatakan Inggris punya pengaruh yang sangat kecil dalam UE. Padahal jika keluar dari UE, maka Inggris bisa mengambil alih sendiri kursi-kursi di lembaga internasional dan memposisikan diri sebagai negara berpengaruh dalam perdagangan bebas dan kerjasama internasional.
    Sementara kalangan kontra menyatakan jika tetap menjadi anggota UE maka kepentingan Inggris di kalangan internasional justru dapat diwakili dua orang yaitu perwakilan dari Inggris sendiri dan dari UE.

Hal ini belum termasuk perdebatan kebijakan bahwa semua negara yang tergabung dalam EU harus memakai Euro pada tahun 2020. Berikutnya simak dampak ekonomi jika Inggris keluar dari Uni EropaDemikian artikel Apa sih Brexit?

sumber: Seputar Forex, The Economist, Bloomberg, Investing, dll

Login FB & Silahkan Komen

komentar

Posted in Fundamental and tagged , , , , .