Dilema The Fed Soal Kenaikan Suku Bunga AS

kenaikan suku bunga as

Kenaikan Suku Bunga AS yang akan diputuskan Bank Sentral AS atau US Federal Reserve (The Fed) pada Kamis dinihari waktu Indonesia kemungkinan besar akan menjadi keputusan bersejarah.

Kenaikan suku bunga AS diperkirakan akan terjadi sebesar 25 basis point sehingga menjadi 0.5%. Jika terlaksana maka keputusan itu akan menjadi salah satu momen besar dalam perekonomian AS dan akan membawa dampak besar bagi perekonomian dunia.

Perlu diketahui bahwa tujuan bank sentral menaikan suku bunga adalah untuk memikat para investor khususnya sektor riil. Akan tetapi investor tidak hanya melihat kenaikan suku bunga saja untuk melakukan investasi, walau memang harus diakui bahwa kenaikan suku bunga adalah indikasi tumbuhnya ekonomi suatu negara. Kenaikan suku bunga inilah juga yang ditunggu oleh investor  sebagai bukti bahwa ekonomi AS sudah keluar dari krisis. Seperti telah kita ketahui The Fed telah mengambil serangkaian kebijakan untuk mengatasi krisis ekonomi AS seperti: beberapa kali menurunkan suku bunga sampai dengan tingkat 0.25% seperti saat ini, mengeluarkan kebijakan stimulus (quantitative easing) dalam beberapa tahap dan akhirnya menghapus stimulus yang sudah dikeluarkan (tapering).

Akibat kebijakan-kebijakan tersebut USD perlahan naik tinggi sejak tahun 2011. Suku bunga acuan rendah saat ini, mendorong ekspansi kredit dan peningkatan peredaran uang. Pada satu sisi menambah lapangan kerja (implikasi dari ekspansi bisnis) yang kemudian meningkatkan inflasi. Dampak menguatnya USD dapat membuat kinerja perusahaan AS mengalami tekanan pada pasar global karena tidak bisa berkompetisi dengan baik dan mungkin berdampak terjadinya efisiensi. Pengusaha akan mulai lebih banyak melakukan import karena lebih murah. Produk AS yang tidak dapat diserap pasar global akan diarahkan ke pasar domestik bersama dengan barang impor yang memicu over supply dan berimplikasi deflasi. Keadaan ini akan makin menekan kinerja perusahaan sehingga memerlukan kendali ketat terhadap biaya. Akhirnya bisa berdampak pada minimnya penambahan upah serta dapat menjurus pengurangan tenaga kerja. Kenaikan suku bunga acuan bisa menambah tekanan finansial pada perusahaan dan penurunan pendapatan dari penjualan produk. Jika dibiarkan hal tersebut akan membuat keadaan ekonomi AS akan kembali memburuk.

Sebaliknya jika USD cukup rendah dibandingkan dengan mata uang negara lain, maka untuk jangka panjang AS akan bisa menawarkan produk dan jasa dengan harga yang lebih kompetitif. Di lain sisi pengusaha AS akan sangat mengurangi import karena mahal. Dengan kata lain negara yang memiliki nilai mata uang yang rendah rendah, seiring waktu pertumbuhan ekonominya berpotensi lebih baik dibanding negara yang mata uangnya terlalu kuat…. lanjut klik hal 2 paling bawah

Login FB & Silahkan Komen

komentar

Posted in Fundamental, Trading Plan and tagged , , , , , , , .